Life in Korea

Bahasa Korea, kenapa makin belajar malah makin susah didengar? 😳

Kalimat yang sama bisa berarti kebalikannya, ditambah kata negasi artinya tetap sama, dan spasi antar kata dua kutub ekstrem. Kita bahas alasan-alasan sebenarnya kenapa bahasa Korea terasa begitu susah.

Nilai ujian di buku teks sempurna, tapi kenapa di jalan malah terus-terusan mentok? Kalimat yang sama bisa berarti kebalikannya, ditambah kata negasi artinya tetap sama, dan spasi antar kata dua kutub ekstrem. Kita bahas alasan-alasan sebenarnya kenapa bahasa Korea terasa begitu susah.

Pengantar

Jelas-jelas di buku teks kamu belajarnya begini.

"μ†λ‹˜, 가방을 λ“œλ¦΄κΉŒμš”?" (Sonnim, gabangeul deurilkkayo? / "Pelanggan, saya berikan tasnya, ya?")

Jelas, lengkap, tanpa satu partikel pun yang hilang. Tapi begitu masuk toko, si bapak bilang begini.

"λ„£μ–΄λ“œλ €?" (Neoeo-deuryeo? / cuma "Dimasukkin, ya?")

Kamu juga pernah punya pengalaman kayak gini, kan? Kalau belum pernah ke Korea, mungkin kamu pernah lihat adegan serupa di drama. Momen di mana kamu jelas tahu semua katanya, tapi kalimatnya terlalu pendek sampai malah nggak nangkep.

Aneh, ya. Makin rajin belajar bahasa Korea, nilai ujian makin naik, tapi kalimat yang kamu dengar di jalan malah kayak makin susah ditangkap. Sebenarnya, penghilangan kayak "λ„£μ–΄λ“œλ €?" cuma salah satu dari banyak alasan bahasa Korea itu susah. Kalimat yang sama bisa berbalik jadi arti sebaliknya, ditambah kata negasi pun artinya tetap sama, dan spasi antar kata berayun dari satu kutub ke kutub lainnya. Hari ini, yuk kita telusuri satu per satu alasan kenapa bahasa Korea terasa sesusah ini, dan kenapa begitu paham logikanya, semua jadi nggak semenakutkan itu, malah jadi seru.


1. Kalimat yang sama, tapi artinya justru berlawanan

Alasan pertama bahasa Korea susah adalah ini. Kalimat yang sama persis bisa berarti kebalikannya tergantung situasi.

Misalnya di kafe kamu nanya ke orang di meja sebelah, "μ—¬κΈ° 자리 μžˆμ–΄μš”?" (Yeogi jari isseoyo?). Jawaban yang balik: "λ„€, 자리 μžˆμ–΄μš”" (Ne, jari isseoyo)… jadi, boleh duduk apa nggak? "자리 μžˆμ–΄μš”" bisa berarti "kursi ini ada yang punya (jadi jangan duduk)", bisa juga "ada kursi kosong (jadi silakan duduk)". Kata yang sama persis, artinya berlawanan.

Contoh kayak gini lebih banyak dari yang kamu kira.

Bahasa Korea Arti β‘  Arti β‘‘
컀튼 μ’€ 쳐쀘 (Keoteun jom chyeojwo) Bukain gordennya Tutupin gordennya
학원 λŠμ—ˆμ–΄ (Hagwon kkeuneosseo) Mulai ikut les di bimbel Berhenti dari bimbel
μ—°νŒ¨ (連覇 / ι€£ζ•—) (yeonpae) Lagi menang beruntun Lagi kalah beruntun

'μΉ˜λ‹€ (chida)' dipakai baik saat membuka maupun menutup; 'λŠλ‹€ (kkeunda)' dipakai baik saat 'beli tiket' untuk memulai maupun 'memutus hubungan' untuk berhenti. Dan 'μ—°νŒ¨' kalau ditulis pakai Hangul, nggak ketahuan itu 連覇 yang menang atau ι€£ζ•— yang kalah β€” dari bentuk hurufnya saja nggak bisa dibedakan. Makanya orang Korea secara nggak sadar mengerahkan seluruh situasi sebelum-sesudah, ekspresi wajah, dan intonasi untuk memastikan artinya. Dalam bahasa Korea, konteks itu bukan sesuatu yang 'ada syukur', tapi justru inti yang menentukan makna.


2. Dinegasi artinya tetap sama, dilakukan dengan baik malah hancur

Alasan kedua adalah ironi. Ini ungkapan-ungkapan yang kalau dilihat dari hurufnya logikanya nggak nyambung, tapi maknanya tetap sampai.

"우리 λͺ» λ³Έ μ§€ μ˜€λž˜λλ„€" (Uri mot bon ji oraedwaenne). Di sini 'λͺ» (mot)' adalah kata negasi. Tapi kalimat ini artinya sama persis dengan "우리 λ³Έ μ§€ μ˜€λž˜λλ„€" (Uri bon ji oraedwaenne). Ditambah kata negasi atau dibuang, sama-sama berarti "udah lama nggak ketemu, ya". Kalau ikut logika, harusnya justru berlawanan.

"μž˜ν•˜λ©΄ 망할 λ“―" (Jalhamyeon manghal deut) juga mirip. 'μž˜ν•˜λ‹€ (jalhada)' jelas artinya "melakukan dengan baik", tapi 'μž˜ν•˜λ©΄' di sini dipakai dengan arti "kalau nggak hati-hati", "sedikit saja lengah". Jadi "μž˜ν•˜λ©΄ 망할 λ“―" itu kekhawatiran β€” "bisa-bisa malah hancur" β€” bukan berarti karena melakukannya dengan baik jadi hancur.

Dalam bahasa Korea cukup banyak ungkapan yang justru salah kalau ditafsirkan secara harfiah. Yang kayak gini itu kamu serap alami dari drama, acara variety, dan obrolan sehari-hari ketimbang dari buku tata bahasa, jadi sekarang belum tahu semuanya pun nggak apa-apa.


3. Spasi antar kata itu dua kutub ekstrem

Alasan ketiga adalah spasi antar kata (띄어쓰기, tteeosseugi / cara menulis dengan memberi spasi antar kata). Ini sebenarnya orang Korea sendiri pun menganggapnya susah.

Lihat dua kalimat.

  • λ„ˆ λ‚˜ μ•ˆ λ³Έ μ§€ ν•œ 달 λ‹€ 돼 감 (Neo na an bon ji han dal da dwae gam) β€” ini spasi yang benar. Hampir tiap huruf berdiri terpisah satu spasi.
  • μ˜¨λ°κ°„λ°μ—†μ„λΏλ”λŸ¬ (Ondegandeeopseulppeundeoreo) β€” kalau ini, sembilan huruf semuanya nempel jadi satu kata.

Yang satu memecah semuanya jadi potongan kecil, yang lain sepanjang apa pun nggak dipisah sama sekali. Aturannya ada, tapi ini area yang bahkan penutur asli sering salah. Makanya spasi antar kata itu area yang bahkan orang Korea bingung tiap hari, jadi kalau kamu belum sempurna di sini sama sekali nggak masalah. Nggak mengganggu buat membaca dan memahami, dan menulis bisa kamu kuasai pelan-pelan β€” nggak usah buru-buru.


4. Selain itu, kalimatnya 'dihapus' saat diucapkan

Ada satu lagi. Di percakapan nyata, bahasa Korea memangkas seluruh kalimat saat diucapkan. "λ„£μ–΄λ“œλ €?" di paling awal artikel ini persis contohnya.

Kalimat aslinya "(μ œκ°€) (이 μ‹ λ°œμ„) (λ΄‰νˆ¬μ—) λ„£μ–΄ λ“œλ¦΄κΉŒμš”? ((Saya) masukkan (sepatu ini) (ke dalam kantong) untukmu, ya?)", tapi yang benar-benar tersisa cuma satu kata kerja. Bahasa Korea adalah bahasa yang dengan berani menghapus informasi yang sudah sama-sama diketahui oleh pembicara dan pendengar. Begitu pembayaran di toko sepatu selesai, kalian berdua sudah tahu 'apa' yang mau dimasukkan 'ke mana', jadi menyebutkan semua hal yang sudah jelas itu malah terdengar janggal.

Ngomong-ngomong, "λ„£μ–΄λ“œλ €?" walau berakhir pendek sampai terdengar kayak bahasa kasar, 'λ“œλ¦¬λ‹€ (deurida)' yang ada di dalamnya adalah ungkapan merendah yang meninggikan pelanggan. Cuma dipangkas saja, sama sekali bukan kata yang nggak sopan, jadi kamu nggak perlu tersinggung gara-gara kalimat pendek yang dilempar tiba-tiba.


5. Jadi, harus gimana?

Kalau lihat sampai sini, bahasa Korea memang usil, ya. Tapi nggak perlu keder. Arahnya cuma dua hal.

Pertama, nanya lagi kalau nggak nangkep. Satu kalimat paling sempurna adalah "λ„€? λ‹€μ‹œ ν•œ λ²ˆμš”?" (Ne? Dasi han beonyo? / "Ha? Sekali lagi, dong?"). Kalau kamu nanya begini, sembilan dari sepuluh kali lawan bicara bakal menguraikan kalimatnya sedikit lebih lengkap lalu mengulanginya. Nanya lagi itu bukan tanda kemampuanmu kurang, tapi cara paling alami untuk melanjutkan percakapan.

Kedua, bangun dasar membaca konteks. Arti berlawanan, ungkapan ironi, kata yang dihilangkan yang udah kita lihat, pada akhirnya begitu kamu baca situasi sebelum-sesudahnya, maknanya menyempit jadi satu. Makin kalimat utuh meresap ke tubuhmu, 'kekuatan membaca konteks' ini pun ikut tumbuh. Makanya, ketimbang menghafal ungkapan secara utuh, membangun dasar yang kokoh justru jalan yang lebih cepat.


Penutup

Kalimat yang sama berbalik jadi arti sebaliknya, ditambah kata negasi artinya tetap, spasi antar kata berayun dua kutub. Ditambah lagi memangkas seluruh kalimat saat bicara, wajar banget kalau bahasa Korea terasa susah. Itu bukan karena kemampuanmu kurang, tapi karena bahasa Korea memang bahasa yang 'diselesaikan oleh konteks'.

Dan anehnya, semua kekacauan ini terurai dengan satu kekuatan: dasar untuk membaca situasi dan alur sebelum-sesudah. Makin kalimat utuh meresap ke tubuhmu, arti berlawanan maupun kata yang dihilangkan pun secara alami menyempit lewat konteks. Dasar ini nggak muncul dalam semalam, tapi kalau kamu tumpuk sedikit demi sedikit tiap hari, pasti bakal nempel.

Dan di paling dasar dari fondasi itu ada 'kekuatan untuk membaca huruf dengan tepat dan melafalkannya'. SEDA menyediakan pembelajaran 'Hangeul dasar (기초 ν•œκΈ€)' justru untuk langkah pertama ini. Caranya adalah mendengar bunyi tiap huruf Hangeul dan menuliskannya sendiri, mempelajari satu huruf demi satu huruf secara bertahap. Kamu bisa melihat lewat tabel suku kata bagaimana huruf-huruf saling mengunci membentuk bunyi, dan lewat latihan menggabung, menempelkan sendiri konsonan dengan vokal, sehingga bisa membangun dari 'κ°€λ‚˜λ‹€ (ga-na-da)' pelan-pelan. Dari satu kalimat yang terlewat di toko hari ini, sampai hari di mana kalimat itu terdengar begitu saja β€” SEDA akan selalu ada di sampingmu.


Bagikan tulisan ini ke orang terdekatmu yang sedang bersiap berangkat ke Korea.

SEDA Β· Aplikasi belajar EPS-TOPIK

Mulai dengan soal pertama hari ini.

Dengan SEDA, kamu bisa mengerjakan soal yang dibuat dari kosakata dan tata bahasa dalam artikel ini.

App StoreGoogle Play