Pembuka
Bulan Juni 2002, selama satu bulan penuh, malam-malam di Korea berwarna merah.
Ratusan ribu orang memakai kaus merah yang seragam dan tumpah ruah ke alun-alun, dan seluruh kota meneriakkan "Dae~han-min-guk!" (artinya "Republik Korea"). Orang-orang yang tak saling kenal pun berpelukan, menangis dan tertawa bersama. Hanya satu pertandingan sepak bola, tapi seluruh negeri sampai tak tidur semalaman.
Ini bukan sekadar cerita olahraga, lho. Bagi orang Korea, tahun 2002 adalah kenangan musim panas tak terlupakan yang dibagikan satu generasi utuh. Makanya sampai sekarang, coba angkat topik ini di depan orang Korea berusia 40–50-an, tatapan mata mereka langsung berubah. Musim panas itu, sebenarnya apa yang terjadi?
Tak ada yang menyangka bisa ke semifinal
Pertama, ada yang perlu kamu tahu. Sebelum tahun 2002, sepak bola Korea belum pernah mencatat prestasi berarti di Piala Dunia. Di panggung dunia, Korea selalu jadi "tim lemah".
Tapi tahun itu, Korea dan Jepang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia. Ini turnamen di kandang sendiri. Tim nasional dilatih oleh pelatih asal Belanda, Guus Hiddink. Bahkan ketika ia mengubah seluruh tim lewat latihan fisik yang keras pun, sejujurnya sebagian besar rakyat tidak terlalu berharap banyak. Suasananya, "masuk 16 besar saja sudah sukses".
Tapi tim ini melakukan sesuatu yang tak terbayangkan siapa pun.
Musim panas itu, tiga keajaiban
Mari mulai dari babak grup. Lawan pertama adalah Polandia. Di pertandingan ini Hwang Sun-hong dan Yoo Sang-chul masing-masing mencetak satu gol dan menang 2–0, tapi sebenarnya ini bukan kemenangan biasa, lho. Sebab ini adalah kemenangan pertama Korea sepanjang sejarah di putaran final Piala Dunia. Tembok yang sampai saat itu tak pernah bisa dilewati, akhirnya dilewati juga, di kandang sendiri.1 Pertandingan kedua melawan Amerika Serikat berakhir imbang 1–1. Saat tertinggal di babak kedua, Ahn Jung-hwan mencetak gol penyeimbang untuk menyelamatkan satu poin berharga.1
Lalu datanglah laga pamungkas babak grup yang menentukan, melawan Portugal. Pertandingan yang menentukan tiket ke 16 besar.
Portugal saat itu tim kuat yang dipenuhi bintang-bintang kelas dunia. Tapi di menit ke-70 babak kedua, Park Ji-sung mengontrol bola dari sisi kiri dengan dada, melewati bek, lalu menembak langsung ke gawang. 1–0. Satu gol itu membawa Korea lolos sebagai juara grup ke 16 besar, sementara Portugal — yang diunggulkan juara — harus angkat koper.2 Dari sinilah, cerita yang tak diduga siapa pun benar-benar dimulai.
16 besar — melawan Italia. Lawannya Italia, kekuatan sepak bola yang terkenal dengan pertahanan kokoh. Di awal laga Korea kebobolan dan tertinggal 0–1. Tepat saat semua orang berpikir "sampai sini saja mungkin", di penghujung babak kedua gol penyeimbang dramatis pecah, dan nyaris saja memaksa perpanjangan waktu. Lalu di babak kedua perpanjangan waktu, Ahn Jung-hwan melempar tubuhnya menyundul bola mencetak golden goal. (Waktu itu ada aturan "golden goal" — siapa mencetak gol lebih dulu di perpanjangan waktu, pertandingan langsung berakhir di tempat.) Saat bola melewati tangan Buffon — yang dianggap kiper terbaik dunia — dan masuk ke gawang, seluruh negeri meledak serentak. 2–1, lolos ke perempat final.3
Perempat final — melawan Spanyol. Satu lagi unggulan juara, Spanyol. Kedua tim bertahan imbang 0–0 sampai perpanjangan waktu, tanpa satu gol pun tercipta, hingga masuk ke adu penalti. Setiap kali seorang pemain meletakkan bola, puluhan juta orang menahan napas. Saat itulah kiper Lee Woon-jae melempar tubuhnya menepis tendangan Spanyol. Dan kelima penendang Korea semuanya sukses, tak satu pun gagal. Skor akhir 5–3. Saat tembakan terakhir menggetarkan jala, Korea menjadi negara Asia pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia.4 Malam itu, jalanan di seluruh negeri banjir air mata.
Di semifinal, Korea kalah tipis 0–1 dari Jerman dan finis di peringkat keempat.5 Tapi peringkat tidak penting. Tim yang menjungkalkan raksasa-raksasa Eropa satu per satu hingga menempati peringkat keempat dunia ini, sudah menjadi pahlawan di hati setiap orang Korea.
Musim panas ketika seluruh negeri berhenti
Panggung sesungguhnya dari cerita ini, sejujurnya, justru ada di luar stadion.
Di hari-hari pertandingan, alun-alun di depan Gwanghwamun dan Balai Kota dipenuhi ratusan ribu orang berbaju merah. Dengan kelompok suporter bernama "Red Devils" sebagai pusatnya, seluruh rakyat turun ke jalan untuk memberi dukungan. Irama meneriakkan "Dae~han-min-guk!" lalu bertepuk tangan lima kali itu, sampai sekarang tubuh orang Korea mengingatnya lebih dulu daripada pikirannya.
Yang lebih mengejutkan, musim panas itu kehidupan sehari-hari orang Korea benar-benar berhenti total di depan sepak bola. Begitu waktu pertandingan tiba, restoran, toko, jalanan, semua orang berkumpul di depan layar. Bahkan ada kisah-kisah yang sampai sekarang masih diceritakan sebagai pemandangan musim panas itu. Di tengah upacara pernikahan yang sedang berlangsung, pertandingan tetap diputar di satu sudut sementara para tamu mencuri-curi pandang ke layar; bahkan di rumah duka yang berkabung pun, para pelayat diam-diam mengikuti kabar pertandingan. Sebuah musim panas ketika momen paling bahagia maupun paling khidmat dalam hidup sama-sama sejenak memberi tempat untuk sepak bola. Bagi pembaca dari luar negeri mungkin terpikir "sebesar apa sih sampai begitu?", tapi tahun itu di Korea memang benar-benar begitu.
Tapi kenapa, sudah 20 tahun pun masih dibahas?
Di sinilah pertanyaan yang sebenarnya muncul. Cuma satu turnamen sepak bola yang berjalan bagus, kok orang Korea terus-terusan membahasnya lebih dari 20 tahun?
Sampai saat itu, di panggung dunia Korea selalu jadi pihak yang kalah, pihak yang terdesak. Tapi di tahun 2002, untuk pertama kalinya seluruh bangsa menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa "kita pun bisa berhadapan langsung dengan dunia dan menang". Dan itu di kandang sendiri, bersama-sama.
Perasaan musim panas itu melampaui sekadar kegembiraan. Puluhan juta orang yang berbeda usia dan pekerjaan, memakai warna yang sama, menangis dan tertawa di momen yang sama. Rasa bangga kolektif dan perasaan menyatu ini menjadi identitas satu generasi. Makanya sampai sekarang, setiap kali masyarakat Korea menghadapi masa sulit, mereka kembali mengangkat musim panas itu: "Ayo kita berhasil seperti tahun 2002." Tahun 2002 kini bukan lagi soal hasil sepak bola, melainkan sudah menjadi simbol keyakinan "kita juga bisa".
Sekarang kamu paham kan, kenapa wajah pak mandor berbinar begitu saat membahas tahun 2002? Itu bukan pamer soal sepak bola, tapi ia sedang berbagi musim panas paling membara dalam hidupnya denganmu. Oh iya, pelatih Hiddink sampai sekarang pun diperlakukan istimewa di Korea. Ia diangkat menjadi warga kehormatan, dan sebuah stadion di Gwangju diberi namanya.6
Kebanggaan itu masih berlanjut sampai kini
Kebanggaan tahun 2002 masih hidup sampai hari ini. Perasaan "kita bisa bersaing dengan dunia" yang dirasakan seluruh bangsa waktu itu, kini diwariskan utuh kepada satu pemain. Dialah Son Heung-min.
Son Heung-min menjadi pemain Asia pertama yang meraih Sepatu Emas Liga Primer Inggris pada musim 2021–22, dan sampai sekarang masih menjadi kapten tim nasional Korea.7 Bahkan orang Korea yang tidak menonton sepak bola pun tahu nama ini. Bagi orang Korea, Son Heung-min lebih dari sekadar pesepak bola — ia adalah sosok kebanggaan yang mewakili mereka di panggung dunia.
Jadi, aku kasih satu tips kecil, ya. Suatu hari nanti rekan kerja mungkin bertanya, "Kalau negaramu lawan Korea, kamu dukung siapa?" Kalau begitu, santai saja, jangan sungkan, jawab "Ya negara sendiri, dong" sudah cukup. Orang Korea menganggap wajar banget kalau kamu mendukung negaramu sendiri. Cuma, tahan sedikit untuk jadi yang pertama menggoda saat tim Korea kalah, maka kamu akan jadi orang yang cocok diajak ngobrol sepak bola di mana saja.
Penutup
Hanya dengan tahu cerita tahun 2002 saja, kamu jadi memahami satu keping isi hati rekan kerja Korea-mu. Lain kali kalau seseorang membuka obrolan dengan "Dulu tahun 2002 kita…", bisa jadi itu artinya ia ingin berbagi momen paling gemilang dalam hidupnya denganmu. Saat itu, coba balas satu kalimat saja: "Ah, legenda semifinal itu, ya!" Mungkin di hari itu juga, kalian berdua jadi terasa jauh lebih dekat.
Bagikan artikel ini kepada kenalanmu yang sedang bersiap datang ke Korea.
Footnotes
-
"South Korea 2-0 Poland (Jun 4, 2002)" · "South Korea 1-1 USA (Jun 10, 2002)", ESPN / "2002 FIFA World Cup Group D", Wikipedia — Babak grup: menang 2-0 atas Polandia (Hwang Sun-hong menit 26, Yoo Sang-chul menit 53; kemenangan pertama Korea sepanjang sejarah di putaran final Piala Dunia), imbang 1-1 dengan Amerika Serikat (gol penyeimbang Ahn Jung-hwan menit 78). ↩ ↩2
-
"2002 FIFA World Cup Group D", Wikipedia — Babak grup: gol kemenangan Park Ji-sung (menit 70) melawan Portugal, menang 1-0, Korea lolos sebagai juara grup; Portugal tersingkir. ↩
-
"2002 FIFA World Cup knockout stage", Wikipedia — 16 besar: golden goal Ahn Jung-hwan (menit 118) melawan Italia, menang 2-1. ↩
-
"South Korea 0-0 Spain (5-3 pens)", ESPN / beIN SPORTS — Perempat final: menang adu penalti 5-3 atas Spanyol, penyelamatan Lee Woon-jae, negara Asia pertama yang mencapai semifinal. ↩
-
"2002 FIFA World Cup", Wikipedia — Semifinal: kalah 0-1 dari Jerman, finis peringkat keempat. ↩
-
"What is the lasting legacy of the 2002 World Cup for South Korea?", Sky Sports — Hiddink diberi kewarganegaraan kehormatan; stadion Gwangju berganti nama. ↩
-
"Son Heung-min", Wikipedia — Pemain Asia pertama yang meraih Sepatu Emas Liga Primer (musim 2021-22); kapten tim nasional Korea. ↩



